Minggu, 30 November 2014

Selamat Hari Guru






Tanggal 25 November 2014 Doodle menyajikan ilustrasi peringatan Hari Guru Nasional....besok anak-anak juga libur sekolah untuk peringatan Hari PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia.
Temans, masih ingatkah kenangan saat menyimak pengetahuan di bangku sekolah? Saya teringat seorang guru di masa sekolah menengah pertama,

Ibu Holiyati Gumay, guru Bahasa Inggris saya di SMP mengajar dengan cara yang menyenangkan sekali. Di sela-sela pelajaran, beliau sering cerita pengalaman-pengalman nakal saat masih sekolah. Bagaimana ia mencuri waktu utuk mengendarai motor ayahnya, menyamar sebagai seorang pemuda. Jauh dari kesan jaim deh..... Atau saat ia ikut gerak jalan dan tak mau berhenti karena gengsi akibantnya selama seminggu kakinya bengkak-bengkak. Nah....setelah cerita pengalman kembelingannya itu.....lalu beliau memberi nasihat..... "Makanya kalian jangan seperti ibu ya... akibatnya begitu tuh"....

Lain waktu, Ibu Holy pernah memberikan tugas latihan Bahasa Inggris kepada kami. Beliau hapal sekali kalau anak-anak di kelas kami ini hobi berisik, ribut bak ayam berkotek. Maka, beliau membeaskan kami mengerjakan tugas di mana saja di luar kelas. Kami bersorak kegirangan bak kuda lepas dari kandang. Alhasil, semua tempat di luar kelas kami jelajahi. Ada yang nangkring di kantin jajan sambil mengerjakan tugas. Ada yang di taman sekolah, selasar sekolah......bahkan ada yang gelar tikar di kebun singkong belakang sekolah.. Hi..hi..hi....

Ajaibnya semua tugas langsung terkumpul tepat waktu meski ada beberapa buku yang kotor terkena noda minyak atau tanah merah. Nah... yang terkena noda minyak itu kemungkinan yang nagkring di kantin, mungkin lupa melap tangan sehabis makan gorengan he..he...he...

Atau, yang bukunya kotor akibat noda tanah, sepertinya yang gelar tikar di kebun singkong itu...... Kalau tikarnya sih pinjam ke penjaga sekolah.
Hmm.... Ibu Holy apa kabarnya ya sekarang? 

Gorengan


Tahu, pisang, tempe....bisa masuk kategori bahan makanan yang akan nikmat bila dicampur tepung dan menjadi menu gorengan. Gorengan adalah jenis penganan khas merakyat di Indonesia. Nikmat disajikan di pagi, siang, sore bahkan malam hari juga OK. Apalagi di saat cuaca dingin hujan yang menderas.
Sist, jangan lupa ya.......perhatikan minyak yang ada di wajan penggorengan.....apakah sudah berwarna hitam sehitam jelaga di balik wajannya? Jangan lupa juga ya.... bahwa resep jitu membuat gorengan jadi renyah mak kriuk adalah mencampurkan plastik kemasan minyak ke dalam wajannya. Resep ini sebenarnya rahsia dapur para pedagang gorengan, tapi sepertinya sudah menjadi rahasia umum...... atau tepatnya Rahasia Dapur Umum, he..he...he....
Sebagaimana lezat dan kriuknya gorengan abang-abang penjual gorengan, begitu pula informasi di dunia virtual, wahai sist, bro and guys......
Informasi yang tersaji di depan monitor gadget dan lappie nggak bisa langsung ditelan mentah-mentah. Kira-kira seperti gorengan di kaki lima, kita juga wajib menelusuri asal-usul info yang sebenarnya. Cross check kebenaran berita dan gambarnya.....
1. Foto/Gambar Untuk berita kita bisa pakai bah google. Untuk foto, ini dia triknya: Gunakan klik kanan pada mouse, nanti ada menu "Telusuri Google untuk gambar ini" . Maka....beberapa foto sejenis akan terpampang dan ketahuan deh, dari mana foto-foto itu berasal.

2. Artikel. copy 2-3 paragraf kemudian paste di google. kesamaan kalimat akan muncul dr bbrp website.

3. Situs yang Hilang. Google mengcopy semua laman yang pernah singgah. Pada nama situs yang muncul di google, klik tombol cached, maka kita bisa menelusuri artikel yang telah dihapus.

Masih ngobrolin soal gorengan..... Jangan lupa ya.... Sist, mas bro and guys.... Profesi Tukang Gorengan itu nggak cuma ada di pinggir jalan lho...... Di dunia virtual ini banyak bahkan ratusan ribu profesi serupa yang dapat kita jumpai... Bahkan tak sedikit Tukang Gorenga Virtual yang mendadak jadi selebriti.... Hi..hi..hi...

Udah dulu ya.... saya mau cari gorengan dulu... Eits kalau yang ini beneran cari jajanan gorengan lho.... 



Gravity dan Cita-Cita Masa Kecil yang Kubatalkan


Sewaktu kecil saya pernah bercita-cita menjadi seorang astronot lantaran senang melihat bintang. Itu cita-cita jangka panjang. Cita-cita jangka pendek saya adalah mengintip bintang di Observatorium Bosscha, Bandung. Kedua cita-cita itu tak pernah terlaksana.
Saya urung menjadi astronot karena rasa takut yang berlebihan, sebuah ketakutan yang mungkin menghinggapi semua orang. Saya takut jika menjadi astronot akan melayang dan menghilang di tengah kegelapan luar angkasa. Cita-cita saya yang lain juga urung terlaksana, setidaknya belum. Sampai tulisan ini dibuat saya belum pernah menginjakkan kaki ke Observatorium Bosscha, apalagi meneropong bintang-bintang.
Sutradara Alfonso Cuaron menghadirkan mimpi buruk saya di masa lalu. Ia mengirim George Clooney dan Sandra Bullock ke luar Angkasa lewat film besutannya yang dilansir tahun lalu, Gravity.
Saya hadir secara tiba-tiba ketika suami dan anak-anak memutarnya di ruang keluarga. Saya hadir saat adegan Dr. Ryan Stone, yang diperankan Sandra Bullock, terlepas dari tali kendali yang menghubungkannya dengan wahana Teleskop Hubble yang tengah diperbaikinya. Tubuhnya tak henti berputar tanpa bisa dikendalikannya. HIngga akhirnya, rekannya Matt Kowalsi (George Clooney) berhasil menangkapnya.
Saya meninggalkan adegan di televisi, berpindah ke ruang lain. Saya tidak tahan menahan degup jantung demi menahan ketegangan itu. Terus terang ya....ini bukan soal alay atau bukan.....rasanya kok saya seperti nonton film G30S/PKI-nya Arifin C Noer yang tersohor itu..... 




Hari berikutnya, saya memutar film itu kembali, mencoba menyaksikan utuh. Akhirnya saya berhasil menyaksikan film ini secara utuh setelah melewati semua ketegangan yang menyertainya.



Jumat, 28 November 2014

Tongsis Gak Cuma Untuk Selfie


Jika menyebut Tongsis maka yang terlintas di benak kita adalah sebuah tongkat panjang yang ujungnya dipasang gadget lalu... jepret! Maka terekamlah foto kita bersama teman-teman.
Hai..hai.... sesungguhnya apa sih Tongsis itu?
Tongsis (Tongkat Narsis) sesungguhnya hanyalah sebuah perpanjangan fungsi dari alat bantu fotografi. Nama sebenarnya adalah monopod, yaitu alat bantu berkaki tunggal yang digunakan untuk menopang dudukan kamera untuk mengurangi getaran pada saat proses pemotretan.
Dalam perkembangannya, seiring dengan maraknya aksi selfie maka monopod juga mengalami perkembangan dan modifikasi sebagai penunjang aksi selfie bareng-bareng atau dikenal dengan istilah groufie.
Apakah tongsis hanya bisa digunakan untuk selfie dan groufie saja? Kita juga bisa lhooo memanfaatkan tongsis untuk mengambil objek foto yang tak terjangkau tangan.
Nah...foto di bawah ini adalah salah satu manfaat lain tongsis....
Lihatlah orang di latar depan. Ia memanfaatkan tongsis untuk memotret prosesi upacara bendara tujuh belas agustus di Gedung Agung Malioboro.



Perpaduan ketinggan dan lensa wide angle akan mengasilkan gambar yang bisa menyapu keseluruhan objek foto, sehingga akan lebih banyak info yang didapatkan.

Rabu, 12 November 2014

Lokomotif Itu Bernama Kuldesak

Sebelum film  Ada Apa Dengan Cinta booming, empat sutradara muda Indonesia telah menyemai bibit melalui sebuah film indie. Kuldesak, inilah lokomotif kebangkitan kembali film Indonesia. Sebuah film hasil kerja gotong royong berbagai pihak, mulai dari produser, sutradara, bintang utama, penulis skenario dan seluruh kru yang kerja bakti demi menyambung sebuah mata rantai yang terputus, mata rantai sinema Indonesia.
Film ini berisi empat cerita pendek yang satu sama lain tak berhubungan sama sekali, masing-masing film disutradari oleh Mira Lesmana, Nan T achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani. Meski benak penonton dipenuhi teka-teki dalam mencari benang merah antar cerita, tetapi tak mengurangi antrian penonton di loket-loket gedung bioskop. Kami, para anak muda yang memenuhi antrian itu merasa terhibur dengan sajian film-film ala video klip ini. Ya....satu-satunya benang merah antara film ini dengan para penontonnya adalah keindahan adegan yang bak video klip sebuah lagu. Kronologi cerita sudah bukan masalah lagi kala itu, bahkan anggapan bahwa Kuldesak mengambil ide film Four Rooms juga bukan hal penting.
Dalam sebuah talkshow di Fakultas Sastra UGM, Mira Lesmana mengungkapkan sebuah misi: Keuntungan film ini akan digunakan untuk produksi film berikutnya, demikian seterusnya ia berharap ada efek domino yang menjalar dari proyek percobaan serius mereka ini.
Tahun-tahun berikutnya, saya mendapati Rizal Mantovani yang sukses dengan Jailangkung, Nan T Achnas dengan Pasr Berbisik dan Bendera, Mira Lesmana memproduseri film Petualangan Sherina, Gie, Ada Apa Denga Cinta, trilogi Laskar Pelangi. Tak ketinggalan Riri Riza yang menyutradarai Petualangan Sherina, Eliana Eliana.

Sejak itu, kereta perfilman Indonesia mulai melintasi rel waktu, menyinggahi stasiun-stasiun. Gerbong-gerbongnya mempersilahkan diri dimasuki para penonton yang hendak turut dalam petualangan kereta ini.




MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...