“Aduuhhh….perutku sakit sekali…..rasanya kayak melilit….sudah
lima kali bolak-balik ke toilet…… badanku lemas sekali…”
Kejadian itu pernah saya alami lima belas tahun yang lalu
saat indekost di wilayah Pogung. Tubuh saya sudah lemas akibat diare yag menyerang. Tak hanya sekali, tercatat tiga kali saya
mengalami diare akut yang membuat tubuh saya kekurangan cairan cukup
banyak. Menurut dokter, diare yang saya
alami diakibatkan oleh bakteri e-coli yang masuk melalui makanan, air minum
atau air di kamar mandi. Karena diare yang saya alami telah berulang tiga kali
maka dokter menyarankan agar saya memeriksa sumber air di tempat tinggal saya.
Beberapa waktu usai tubuh saya membaik, disertai rasa
penasaran yang cukup tinggi, saya memeriksa
letak sumur dan septic tank di kos. Ternyata jarak antara sumur dan
septic tank cukup jauh, kurang lebih 12 meter. Sumur berada diujung bagian dalam kos sedangkan septic tank berada
di halaman depan bangunan kos. Hmmm……menurut saya jarak dan lokasi
keduanya cukup ideal.
Masih berbekal rasa penasaran, saya iseng ngobrol dengan pemilik kos. Istilah kerennya saya melakukan investigasi kecil-kecilan. Dengan bangga, ibu kos saya berkata, “Septic tank saya itu ndak pernah bermasalah mbak…. Sudah dua puluh tahun lebih sejak dibuat… belum pernah disedot lho!”
Masih berbekal rasa penasaran, saya iseng ngobrol dengan pemilik kos. Istilah kerennya saya melakukan investigasi kecil-kecilan. Dengan bangga, ibu kos saya berkata, “Septic tank saya itu ndak pernah bermasalah mbak…. Sudah dua puluh tahun lebih sejak dibuat… belum pernah disedot lho!”
Apaa? Dua puluh tahun lebih septic tank itu tidak pernah
disedot? Waduh!! Jangan-jangan sumur di kos sudah tercemar limbah tinja dari septic tank dan mungkin gara-gara itu saya kena diare..….
Namun, saya masih penasaran soal penyebab sakit saya ini.
Esoknya saya melanjutkan investigasi.
Saya memeriksa rumah sekitar yang berbatasan langsung dengan kos-kosan.
Alhasil, saya mendapati letak septic
tank yang berada tak sampai tiga meter
lokasi sumur di kos saya.
Pengalaman saya menjadi sebuah pelajaran berharga
bagaimana sebuah pengelolaan sistem pembuangaan limbah biologis manusia harus diperhatikan secara
serius. Idealnya, selain memperhatikan jarak antara sumur dengan septic tank,
perlu juga dicermati lokasi septic tank milik tetangga serta pengurasan septic
tank secara berkala.
Septic tank sendiri merupakan sebuah bangunan yang
berfungsi sebagai pengolah dan pengurai limbah tinja manusia. Bangunan septic
tank ini harus kedap air sehingga air yang berada di dalam septic tank tidak akan meresap ke dalam
tanah tetapi akan mengalir keluar melalui sebuah saluran tersendiri. Sebenarnya air yang telah keluar melalui pipa saluran tersebut masih tidak
aman bagi lingkungan sekitar sehingga masih di perlukan unit pengolahan lain berupa sebuah bidang resapan, sumur resapan
dan filter aliran ke atas yang menggunakan
pasir dan kerikil.
Don’t just built a septic tank, think first!
Jangan membuat
septic tank sembarangan, kita harus mempertimbangan banyak hal mlai dari jarak
sumur dengan septic tank jumah penghuni rumah, pengurasan hingga tidak membuang
benda lain ke lubang toilet.
Selain septic tank konvensional yang dibuat dari bahan
batu bata dan semen, kini telah muncul berbagai jenis septic tank dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Septic tanc jenis ini umumnya terbuat dari fiber glass dan memiliki bentuk
bermacam-macam. Septic tank ramah
lingkungan ini terdiri dari 3
kompartemen dan 1 talang air.
·
Kompartemen
1 merupakan saringan awal (bar screen) tempat dimana tinja dan urine masuk
pertama kalinya. Kompartemen ini berfungsi untuk memisahkan limah organic dan
anorganik. Selanjutnya limbah tinja dan
urine masuk ke Kompartemen 2 secara over flow.
·
Kompartemen
2 memiliki media filter mega cell yang berfungsi sebagai tembah tumbuh kembang
bakteri pengurai limbah tinja. Media filter ini dibuat secara dinamis dan
akan berputar-putar apabila ada arus air dari
bawah. Perputaran pada
kompartemen ini membuat sebuah rotasi peguraian
limbah tinja, tinja yang berada
di bawah akan terangkat ke atas sehingga
tidak terjadi pengendapan. Penguraian akan berlangsung secara merata dan
menghasilkan air yang mulai baik untuk elanjutkan masuk ke kompartemen ketiga.
·
Pada
Kompatemen 3 terdapat media filter
sedimentasi yang juga berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya bakteri
pengurai sebagaimana pada kompartemen
2. Fungsi bakteri pengurai pada kedua kompartemen masih sama hanya saja
pada kompartemen 3 lebih pada penyaring apabila masih ada bakteri yang lolos
dari kompartemen 2. Selanjutnya air akan naik menuju Talang Air.
·
Talang
Air berfungsi sebagai filter terakhir apabila dalam aliran air masih terdapat
bakteri pathogen yag lolos. Kandunan desinfectan chlorine pada Talang Air akan
membunuh bakteri patogen yang lolos dari ketiga kompartemen sebelumnya. Air
yang keluar dari Talang Air ini terhitung sudah ramah lingkungan dan tidak mencemari air tanah di lingkungan
sekitar.
Septic tank ramah
lingkungan ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki septic tank
konvensional karena tidak memerlukan
lahan luas sehingga bisa digunakan pada pemukinan padat penduduk. Selain itu
pemasangannya lebih mudah dan cepat. Bahkan septic tank ini juga bisa
dimanfaatkan pada unit toilet berjalan. Karena memiliki system rotasi maka
tidak terjadi endapan lumpur tinja maka tidak diperlukan pengurasan/penyedotan,
cukup memasukkan bubuk bakteri pada lubang toilet.
Nah….pemilihan
jenis septic tank yang tepat dan
disertai perawatan yang baik akan membantu mengurangi pencemaran air tanah di
lingkungan sekitar kita dan secara tidak lagsung kita telah melakukan
aktivitas #KonsumsiHijau.
Air tanah yang tidak tercemar akan membantu menjaga kesehatan tubuh kita agar bisa beraktivitas dengan baik sehingga harapan menuju #JogjaHijau bukanlah sebuah impian belaka. Dengan demikian kita bisa memiliki kualitas hidup lebih baik.
Air tanah yang tidak tercemar akan membantu menjaga kesehatan tubuh kita agar bisa beraktivitas dengan baik sehingga harapan menuju #JogjaHijau bukanlah sebuah impian belaka. Dengan demikian kita bisa memiliki kualitas hidup lebih baik.










