Minggu, 26 Oktober 2014

Septic Tank yang Baik Menjaga Kualitas Air Tanah




“Aduuhhh….perutku sakit sekali…..rasanya kayak melilit….sudah lima kali bolak-balik ke toilet…… badanku lemas sekali…”
Kejadian itu pernah saya alami lima belas tahun yang lalu saat indekost di wilayah Pogung. Tubuh saya sudah lemas akibat  diare yag menyerang.  Tak hanya sekali, tercatat tiga kali saya mengalami diare akut yang membuat tubuh saya kekurangan cairan cukup banyak.  Menurut dokter, diare yang saya alami diakibatkan oleh bakteri e-coli yang masuk melalui makanan, air minum atau air di kamar mandi. Karena diare yang saya alami telah berulang tiga kali maka dokter menyarankan agar saya memeriksa sumber air di tempat tinggal saya.
Beberapa waktu usai tubuh saya membaik, disertai rasa penasaran yang cukup tinggi, saya memeriksa  letak sumur dan septic tank di kos. Ternyata jarak antara sumur dan septic tank cukup jauh, kurang lebih 12 meter. Sumur berada diujung  bagian dalam kos sedangkan septic tank berada di halaman depan bangunan kos. Hmmm……menurut saya jarak dan lokasi keduanya  cukup ideal.

Masih berbekal rasa penasaran, saya iseng ngobrol dengan pemilik kos.  Istilah kerennya saya melakukan investigasi kecil-kecilan. Dengan bangga, ibu kos saya  berkata,  “Septic tank saya itu ndak pernah bermasalah mbak…. Sudah dua puluh tahun lebih sejak dibuat… belum pernah disedot lho!”
Apaa? Dua puluh tahun lebih septic tank itu tidak pernah disedot? Waduh!! Jangan-jangan sumur di kos sudah tercemar  limbah tinja dari septic tank  dan mungkin gara-gara itu saya kena diare..….
Namun, saya masih penasaran soal penyebab sakit saya ini. Esoknya saya melanjutkan investigasi.  Saya memeriksa rumah sekitar yang berbatasan langsung dengan kos-kosan. Alhasil, saya  mendapati letak septic tank yang berada tak sampai tiga meter  lokasi sumur di kos saya.
Pengalaman saya menjadi sebuah pelajaran berharga bagaimana sebuah pengelolaan sistem pembuangaan limbah  biologis manusia harus diperhatikan secara serius. Idealnya, selain memperhatikan jarak antara sumur dengan septic tank, perlu juga dicermati lokasi septic tank milik tetangga serta pengurasan septic tank secara berkala.
Septic tank sendiri merupakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pengolah dan pengurai limbah tinja manusia. Bangunan septic tank ini harus kedap air sehingga air yang berada di dalam   septic tank tidak akan meresap ke dalam tanah tetapi akan mengalir keluar melalui sebuah saluran tersendiri.   Sebenarnya air yang telah keluar  melalui pipa saluran tersebut masih tidak aman bagi lingkungan sekitar sehingga masih di perlukan  unit pengolahan lain  berupa sebuah bidang resapan, sumur resapan dan  filter aliran ke atas yang menggunakan pasir dan kerikil.

Don’t just built  a septic tank, think first!  
Jangan  membuat septic tank sembarangan, kita harus mempertimbangan banyak hal mlai dari jarak sumur dengan septic tank jumah penghuni rumah, pengurasan hingga tidak membuang benda lain ke lubang toilet.
Selain septic tank konvensional yang dibuat dari bahan batu bata dan semen, kini telah muncul berbagai jenis septic tank  dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Septic tanc jenis ini umumnya terbuat dari fiber glass dan memiliki bentuk bermacam-macam.  Septic tank ramah lingkungan ini terdiri dari  3 kompartemen dan 1 talang air.
·         Kompartemen 1 merupakan saringan awal (bar screen) tempat dimana tinja dan urine masuk pertama kalinya. Kompartemen ini berfungsi untuk memisahkan limah organic dan anorganik. Selanjutnya  limbah tinja dan urine masuk ke Kompartemen 2 secara over flow.
·         Kompartemen 2 memiliki media filter mega cell yang berfungsi sebagai tembah tumbuh kembang bakteri pengurai  limbah tinja.  Media filter ini dibuat secara dinamis dan akan berputar-putar apabila ada arus air dari  bawah. Perputaran  pada kompartemen ini membuat sebuah rotasi peguraian  limbah tinja,  tinja yang berada di bawah akan terangkat ke atas  sehingga tidak terjadi pengendapan. Penguraian akan berlangsung secara merata dan menghasilkan air yang mulai baik untuk elanjutkan masuk ke kompartemen ketiga.
·         Pada Kompatemen 3  terdapat media filter sedimentasi yang juga berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya bakteri pengurai sebagaimana pada kompartemen  2.  Fungsi bakteri pengurai  pada kedua kompartemen masih sama hanya saja pada kompartemen 3 lebih pada penyaring apabila masih ada bakteri yang lolos dari kompartemen 2. Selanjutnya air akan naik menuju Talang Air.
·         Talang Air berfungsi sebagai filter terakhir apabila dalam aliran air masih terdapat bakteri pathogen yag lolos. Kandunan desinfectan chlorine pada Talang Air akan membunuh bakteri patogen yang lolos dari ketiga kompartemen sebelumnya. Air yang keluar dari Talang Air ini terhitung sudah ramah lingkungan  dan tidak mencemari air tanah di lingkungan sekitar.

Septic tank ramah lingkungan ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki septic tank konvensional  karena tidak memerlukan lahan luas sehingga bisa digunakan pada pemukinan padat penduduk. Selain itu pemasangannya lebih mudah dan cepat. Bahkan septic tank ini juga bisa dimanfaatkan pada unit toilet berjalan. Karena memiliki system rotasi maka tidak terjadi endapan lumpur tinja maka tidak diperlukan pengurasan/penyedotan, cukup memasukkan bubuk bakteri pada lubang toilet.
Nah….pemilihan jenis septic tank yang tepat  dan disertai perawatan yang baik akan membantu mengurangi pencemaran air tanah di lingkungan sekitar kita dan secara tidak lagsung kita telah   melakukan  aktivitas #KonsumsiHijau.

Air tanah yang tidak tercemar akan membantu menjaga kesehatan tubuh kita agar bisa beraktivitas dengan baik sehingga harapan menuju  #JogjaHijau  bukanlah sebuah impian belaka. Dengan demikian kita  bisa memiliki kualitas hidup lebih baik.

Kamis, 23 Oktober 2014

Dunia yang Paralel

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika teknologi virtual mampu membawa kita menjalani  kehidupan paralel dalam keseharian. Sebuah dunia yag dahulu hanya bisa kita saksikan dalam film atau kita baca dalam  novel, sebuah karya rekaan imajinatif seorang penulis naskah.


Kini, saat sedang menjalani kehidupan nyata kita juga menjalani kehidupan lain di dunia virtual secara bersamaan. Seorang ibu rumah tangga yang melakukan rutinitas kerumahtanggaan, secara bersamaan bisa menyandang profesi ganda. Profesi virtual yang disandang bisa berupa online marketer, online writer, online designer, buzzer dan aktivitas lain. 

Atau tengoklah kegiatan sederhana lainnya: chatting online dijalankan bersamaan dengan perbincanga langsung dengan teman di samping kita. Tak hanya itu, pebincangan online juga terkadang dilakukan dalam beberapa kanal secara bersamaan.

Seraya menulis catatan ini, sayapun tak henti  beraktivitas di dapur untuk memasak. Maka, selain menghasilkan artikel singkat ini, sayapun  sukses menyajikan menu makan siang. Menu makan siang kali ini ikan asin, sambal bawang dan lalapan bokcoy rebus. Mari makan..... :) 






Batik dan Iwan Tirta

Sejak Unesco menganugerahkan Batik sebagai Karya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia Oktober 2009 maka Bulan oktober dinobatkan menjadi Bulan Batik. Penganugerahan ini adalah buah kerja panjang banyak pihak mulai pelaku industri, pekerja industri, desainer dan seniman batik hingga masyarakat umum penggunanya.

Salah satu pejuang gigih Batik adalah desainer Iwan Tirta. Meski berlatar pendidikan ilmu hukum, ketertarikannya yang luar biasa terhadap Batik menjadikannya seorang yang gigih mengembangkan batik khas Indonesia. Ia tak hanya merancang namun juga melakukan upaya pendidikan, penelitian bahkan pengembangan filosofi Batik Indonesia.

Saya mengenal Iwan Tirta pada periode akhir 80-an lewat halaman-halaman mode majalah perempuan koleksi mendiang nenek saya, seorang penjahit. Kala itu saya tidak terlalu 'ngeh' dengan artikel-artikel pada halaman fashion tersebut, saya hanya membaca sambil lalu.

Sebagai maestro, kejelian Iwan Tirta mengolah motif-motif batik dalam kesan modern dan kualitas yang tinggi membuat karya-karyanya tak mudah diduplikasi. Keistimewaan karyanya terletak pada detail proses yang bisa mengalami pewarnaan tiga hingga empat kali, bahkan motifnya dibuat dua sisi, bolak-balik. Semua itu mampu menghasilkan paduan dan struktur warna yang indah dan seakan nyata.




Salah satu milestone dalam perjalanan karya Iwan Tirta adalah saat mempersembahkan rancangan batik pada perhelatan KTT APEC di Istana Bogor tahun 1994. Seluruh kepala negara peserta forum tersebut mengenakan pakaian tradisional batik dalam bentuk kemeja.

Seorang Nelson Mandela pertama kali jatuh cinta justru pada batik karya Iwan Tirta dan sejak itu mengenakan batik dalam kesehariannya. Bahkan di Afrika Selatan, kemeja motif batik mendapat julukan baru "Madiba Shirt". Konon mantan Presiden Soeharto pernah menghadiahkan satu kontainer batik rancangan Iwan Tirta kepada Mandela.

Hingga saat wafatnya di tahun 2010, Iwan Tirta telah mewariskan tak kurang dari 10 ribu motif batik berikut pakem dan filosofi. Pemikiran-pemikirannya juga dituangkan dalam sebuah buku berjudul Batik Sebuah Lakon.

Di balik semua prestasi yang cemerlang, sang maestro tetap berendah hati dengan menolak batik sebagai karya cipataannya. Ia mengaku hanya berupaya untuk menjaga dan melestarikannya saja. "I didn't create batik, but I preserved and nurtured it like a caretaker" - Iwan Tirta



FaceBook dan Peta yang Hilang


Kehadiran Zuckerberg ke Indonesia, mau tak mau membuat saya mengunjungi laman internet.org. Di laman tersebut saya menjumpai sebuah peta dunia berwarna ungu. Sebuah peta yang aneh karena peta ini tidak utuh, ada sebuah negara yang menghilang, China.
Hampir seluruh rakyat China tak bersolialisasi menggunakan media sosial populer. Negara ini memblokir media-media sosial mainstream macam FaceBook, Twitter bahkan mesin pencari Google. China memilih mengembangkan sendiri aplikasi-aplikasi media sosial buatan anak negeri.




Jumlah penduduk China yang lebih dari 1,3 milyar memang pasar potensial yang sayang untuk dilewatkan. Berapa milyar Yuan yang harus melayang ke luar China, jika FaceBook, Twitter atau Google beroperasi di negara itu?


Soekarno dan Peter Sie


Tampilan seorang kepala negara tak bisa dilepaskan dari busana yang dikenakannya. Soekarno, presiden pertama republik ini dikenang dengan gaya busananya yang khas. Model jas yang dikenakannya merepresentasikan kharisma yang dibutuhkan rakyat ndonesia kala itu. Rakyat membutuhkan figur yang bisa memimpin mereka, Soekarno menjawab kebutuhan itu dan melengkapinya dengan model busananya. Soekarno, tercatat sebagai Presiden Indonesia yang paling fashionable.

Namun siapakah di balik gaya fashion Soekarno? Adalah Peter Sie, seorang perancang busana Indonesia kelahiran Bekasi 28 Desember 1929 yang dengan tangan dinginnya merancang dan menjahitkan pakaian-pakaian resmi Soekarno.


Peter Sie adalah pelopor Haute Couture di industri fashion Indonesia. Haute Couture atau kerap disebut adibusana merupakan sebuah teknik pembuatan busana tingkat tinggi yang dibuat khusus untuk pemesannya, menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik, biasanya dihiasi detail, dikerjakan dengan tangan, dan pembuatannya memakan waktu lama.
Peter Sie wafat pada 1 April 2011, sepanjang hidupnya telah memberikan banyak kontribusi bagi perkembangan dunia fashion di tanah air. Kalangan industri fashion mengakuinya sebagai Bapak Haute Couture Indonesia.

Tangan dingin Peter Sie telah membantu mengantarkan Soekarno sebagai ikon pemimpin revolusi rakyat Indonesia di awal kemerdekaan, bahkan hingga saat ini.

Jomblo


Kosakata Jomblo menjadi kata yang hampir tak terpisahkan dari kamus gaul anak muda jaman sekarang apalagi ditambah kata galau. Maka semakin komplit menjadi Jomblo Galau.
Saya mengenal kata "Jomblo" saat masih menjadi anak kos di Jatinangor sekitar tahun 1994. Kala itu kata Jomblo populer di kalangan teman-teman kuliah dan menjadi bahan ejekan bagi yang belum punya pacar.
Kata Jomblo berasal dari Bahasa Sunda, artinya kira-kira "anak gadis yang terlambat menikah" alias "perawan tua"
Grup band Gigi punya andil menasionalisasi kosa kata ini lewat singel berjudul sama. Maka, makna kata "Jomblo" menjadi lebih luas tak hanya bagi anak gadis, anak-anak muda laki-lakipun secara terbuka menjuluki dirinya Jomblo manakala belum memiliki pacar.

Selasa, 07 Oktober 2014

Museum Affandi, Sebuah Lambang Cinta Keluarga


Ketika menyebut nama Affandi, tentu yang terlintas di benak kita adalah seorang  lelaki tua  dengan penampilan blepotan cat minyak di tangan dan bajunya, serta dengan hasil karya lukisnya yang tak kalah acak-acakan. Meski  terlihat acak-acakan, hasil karyanya sangat dihargai masyarakat hingga ke manca negara. Ketika mengunjungi museum lukisnya,  saya tak hanya menemukan Affandi  sebagai seorang maestro lukis belaka. Saya juga mendapati Affandi sebagai buah hati dalam keluarganya: istri, anak hingga cucunya.
Museum lukis ini sungguh-sungguh sebuah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan antara Affandi  dan seluruh anggota keluarganya. Kompleks galeri ini tak hanya sebagai  ruang pamer karya seluruh anggota keluarga, namun juga sebagai rumah tinggal, studio lukis hingga menjadi tempat dimana Affandi dan Maryati istrinya dikebumikan. Sebuah passion yang mendarahdaging dalam jiwa seluruh anggota keluarga.


Tiket Masuk Museum. Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan ne
gara asal. Tiket untuk turis mancanegara Rp.50.000,-  Tiket domestik dewasa Rp.20.000,- Tiket untuk anak di atas 8 tahun Rp.10.000,- Sedangkan anak-anak hingga usia 8 tahun bebas bay
Tiket Masuk Museum. Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan ne
ar.

Museum ini terletak di perbatasan kota, tepat di pinggir kali Gajah Wong. Penanda utamanya adalah sebuah pohon Kapuk Randu tua yang berukuran raksasa....tinggi dan besar. Saya menaksir usianya lebih dari seratus tahun.

Saya mengenal sosok Affandi lewat berita-berita di televisi ketika duduk di bangku sekolah dasar. Acara Dunia Dalam Berita di TVRI kerap menayangkan aktivitas pameran seniman lukis itu, termasuk tayangan saat beliau tengah melukis dengan gaya yang unik. Cat lukis diplorotkan dengan sekenanya, lalu disapukan menggunakan jari-jari. Sesekali jari-jarinya mengelap pada bajunya yang sudah blepotan cat minyak. Warna bajunya sudah tidak karuan. Gaya melukisnya unik, ekspresif dan jauh dari kesan artistik.
Sementara Nawal ,puteri saya, mengenalnya lewat pelajaran di sekolahnya. Dia mengenal Affandi disertai sebuah kalimat pelengkap: pelukis terkenal.
Dulu, saya cuma mendengar bahwa Affandi adalah seorang pelukis beraliran abstrak. Karya lukisnya tidak jelas dan berantakan. Maklum saja, ketika itu banyak orang yang membadingkannya dengan gaya lukisan Basuki Abdullah yang terlihat lebih riil dan langsung bisa ditangkap keindahannya. Dikemudian hari, saya menemukan Affandi sebagai pelukis beraliran ekspressionis.
Ketika berkesempatan mengunjungi galeri sekaligus museum karya-karyanya, baru saya paham mengapa karya-karya Affandi dikagumi banyak orang. Melihat secara langsung lukisan-lukisannya, rasanya saya turut merasakan energi di dalamnya, bagaimana passionnya saat mengejawantahkan ide-ide ke permukaan kanvas. Plorotan langsung cat minyak dari tube ke permukaan kanvas, menghasilkan efek tiga dimensi yang kuat. Saya juga sempat menerka-nerka, kira-kira habis berapa banyak cat minyak dengan gaya yang boros ini ya?

Suasana interior Galeri 1 secara keseluruhan yag sangat artistik. Keseluruhan gedung di kompleks musem ini berbentuk melengkung sehingga tampak fotogenik dalam bidikan kamera. Perhatikan mobil kuning yang berada di latar belakang foto, bentuk dinding yang melengkung dan menyudut menampilkan kesan kedalaman dan efek menghilang. Warna cat dinding yang mencolok dan lantai yang bermotif catur mengingatkan pada setting film "Alice in Wonderland"
Lukisan Affandi ternyata tidak seabstrak yang saya bayangkan ketika masih kecil. Judul lukisan bisa memandu kita dalam memaknai lukisan-lukisan Affandi. Pada beberapa lukisan yang cukup rumit saya mencoba menikmati dengan cara memicingkan kedua mata, hasilnya lumayan.....garis-garis yang terpisah seolah terkesan lebih tegas dan membentuk satu kesatuan yang utuh....seperti pada lukisan berjudul "Tari Kecak".

Secara keseluruhan museum ini terdiri dari 3 galeri utama, 2 galeri tambahan (Studio Gajah Wong 1 dan 2), sebuah kafe yang menyatu dengan rumah tinggal keluarga dan beberapa bangunan penunjang lain.
Destinasi pertama adalah memasuki Galeri 1 yang berisi karya-karya Affandi di awal karirnya. Galeri ini juga merupakan gedung yang pertama kali dibangun oleh beliau di tahun 1960-an. Di dalamnya, selain berisi puluhan karya lukis juga terdapat memorabilia mobil kesayangan dan sepeda milik Affandi. Memorabilia lain adalah alat-alat lukis, berabagai tanda penghargaan dalam dan luar negeri, koleksi pipa cangklong dan beberapa foto dokumentasi.

Koleksi sketsa karya Affandi yag dibuat menggunakan tinta cina dipajang khusus di Galeri 2

Selanjutnya, kami memasuki Gedung galeri 2 yang berisi karya-karya sketsa Affandi yang berbahan tinta cina. Tak hanya itu, beberapa karya patung Kartika, puterinya juga turut dipamerkan.
Galeri ke 3 memberi kesan modern dalam tampilan interiornya. Khusus di sini, ditampilkan karya seluruh keluarga. Ada lukisan Ibu Maryati (saya baru tahu, ternyata Maryati juga seorang pelukis), kedua anaknya Kartika dan Rubini. Juga terdapat video dokumenter kehidupan Affandi dan cara melukisnya.

Memasuki ruang Galeri 3 kita akan langsung disambut oleh sebuah lukisan sulam karya Maryati yang menggambarkan suasana Menara Eiffel dan sekitarnya

Salah satu sudut di ruang Galeri 3 yang menampilkan lukisan-lukisan karya anggota keuarga, dilengkapi jga 3 anak tangga berbentuk setengah lingkaran layaknya sebuah teater arena

Selain memamerkan lukisan anggota keluarga, di Galeri 3 juga diputar video dokumenter Affandi semasa hidup, termasuk demo saat membuat lukisan yang tergolong unik.



Selanjutnya kami berkeliling mengitari souvenir shop, perpustakaan. Dan akhirnya sampai pada dua studio tambahan yaitu Studio Out Door Gajah Wong yang sekaligus merupakan sebuah sanggar lukis bagi anak-anak dan dewasa. Selain itu ada juga Studio In Door Gajah Wong yang ditujukan sebagai galeri pameran bagi murid-murid sanggar Gajah wong.

Setelah penat berkeliling, akhirnya saya dan anak-anak melepas lelah di kafe yang letaknya tepat di tenga-tengah kompleks museum. Kami menukar kupon pada tiket masuk dengan sebotol soft drink.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...