Selasa, 25 Juni 2013

Umbul Kapilaler, Love at The First Sight

Pukul dua siang matahari masih bersinar garang, udara terasa panas dan gerah. Tapi itu tidak berlaku di Umbul Kapilaler. Umbul ini diapit oleh dua beringin tua yang menjulang tinggi melindungi dari terik matahari. Akar-akarnya menjuntai, menjura hingga mencapai permukaan air menambah eksotika telaga ini.



Umbul Kapilaler adalah salah satu dari sekian banyak sumber mata air di kawasan Polanharjo Klaten. Umbul Kapilaler ‘bertetangga’ dengan Umbul Sigedang yang lebih dulu populer lantaran menjadi sumber air bagi sebuah perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) terbesar di negeri ini.

Siang ini saya menikmati menonton beberapa anak tengah menangkap ikan-ikan kecil di Umbul Kapilaler. Anak-anak ini cukup mahir berenang, mungkin karena hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan dengan berenang di umbul ini. 






‘Amunisi’ yang mereka siapkan untuk menangkap ikan antara lain jaring ikan, baskom saring dan kantong plastik. Awalnya anak-anak ini beriringan di sisi umbul, bekerjasama menggiring dan manghalau ikan-ikan agar masuk perangkap jaring dan baskom. Beberapa ekor ikan berhasil masuk jaring dan segera saja dipindahkan ke dalam kantung plastik. 


Tak berapa lama, kelompok kecil ini mulai terpisah-pisah karena kasyikan masing-masing. Ada yang memilih berenang-renang sambil menyelam, ada yang sibuk mengurusi ikan hasil tangkapan namun yang tetap berkonsentrasi menangkapi ikan-ikan masih tetap banyak. 







Sesekali satu atau dua di antara mereka yang kebetulan melihat serombongan ikan akan berteriak memberi pertunjuk pada teman-temannya “Hei…kae..kae..ning kono..!” (Hei…itu..tuh..di sana..!). Saya yang sedari tadi menyaksikan ‘perburuan’ kecil ini turut berteriak menunjuk-nunjuk . Segera saja beberapa anak akan berenang mengikuti petunjuk. Beberapa ikan yang terjebak di antara bebatuan menjadi sasaran paling empuk untuk ditangkapi. 













Keceriaan ini tentu saja dihiasi dengan begitu banyak gelombang dan deburan-deburan air segar. Beberapa percikan kecil air telaga ini mendarat di wajah saya, seketika rasa sejuk mengalir ke seluruh tubuh saya. Waktu benar-benar membeku di telaga eksotis ini, padahal matahari mulai merendah bersiap tenggelam. 

Dalam perjalanan pulang, kesejukan air Umbul Kapilaler masih saya rasakan. Pun sesampai di rumah ketika tulisan ini hendak saya rampungkan. Saya jatuh cinta pada Umbul Kapilaler

Kamis, 06 Juni 2013

Dongeng Pengantar Tidur


Inilah ritual pengantar tidur terbaik bagi anak-anak, penutup rangkaian aktivitas sepanjang hari

Mendongeng dipopulerkan oleh hampir semua ibu di berbagai belahan dunia. 
Meski tidak semua ibu memiliki ketrampilan mendongeng, namun kedekatan emosi antar ibu dan anak nyatanya mampu menepiskan kekurangan itu.

Saya termasuk golongan ibu yang tidak memiliki ketrampilan mendongeng yang fasih. 
Meski mendiang ibu saya  menyisihkan sebagian malamnya untuk mendongeng bagi kami, anak-anaknya, namun  kefasihan itu tidak serta merta menular kepada saya. 
Di samping fabel popular Kancil dan Buaya, kisah-kisah dari Negeri Seribu Satu Malam mendominasi  tema  dongeng saya di masa kecil, terutama kisah kecerdikan Abunawas. 

Saya sempat mengalami kegelisahan karena rasa ketidakmampuan mendongeng. 
Rasanya ada yang hilang ketika saya tidak bisa mendongeng bagi anak-anak saya.  
Hingga suatu ketika, saya membeli beberapa buku kecil kumpulan cerita pendek  bagi anak-anak, karya Enid Blyton. Saya membelinya dalam sebuah kesempatan bazaar buku di Gramedia, seharga Rp. 5000/buku  (senangnya....dapat buku bagus dengan harga semurah itu... :) ...)

Semula buku tersebut saya peruntukkan bagi Eda, puteri sulung saya, agar ia lebih rajin membaca.  Nawal yang belum bisa membaca merengek kepada saya agar membacakan cerita-cerita di buku kecil itu.  Maka dimulailah  ‘karir mendongeng’  saya.

Hampir setiap malam, menjelang tidur, Nawal selalu meminta dibacakan cerita. Ia menyodorkan buku kecil kumpulan cerpen karya Enid Blyton tersebut. 
Ia akan memilih cerpen mana yang malam itu ingin didengarnya. 
Bahkan, terkadang Rayda yang sudah bisa membaca turut meminta dibacakan salah satu judul cerpen.  

Buku-buku inilah yang setiap malam wajib saya bacakan.  Betapapun lelah,  saya berusaha mengabulkan keinginan mereka. Rayda dan Nawal menyimak betul  cerita-cerita yang saya bacakan. 

Berikutnya saya mulai menambah pilihan buku yang akan saya bacakan. Koleksi lama yang teronggok di rak buku anak-anak mulai saya bongkar. Hasilnya saya menemukan beragam harta terpendam yang selama beberapa waktu menganggur. 




Buku Kumpulan Cerita Pendek Karya Enid Blyton


Bagi saya membacakan cerita menjelang tidur  sangat penting karena saya yakin mampu mendorong imajinasi  dan kreativitas anak-anak. .
Proses mendengar cerita membuat mereka berimajinasi, membayangkan  suasana /ilustrasi  jalan cerita dalam benak masing-masing, bagaimana raut wajah dan mimik tokoh  dalam cerita.  Jika diminta menuangkan imajinasi tersebut ke dalam bentuk gambar maka hasil imajinasi tiap anak pasti berbeda.

Lewat mendongeng dan pembacaan cerita pula, stimulasi kecerdasan berbahasa anak-anak akan berkembang dan memperkaya perbendaharaan kosa kata mereka.

Awal membacakan cerita, lafal dan intonasi yang saya bawakan sungguh payah. 
Saya membacakan cerita cepat-cepat  tanpa memperhatikan  titik, koma bahkan intonasi. 
Ada rasa ingin segera menyudahi  cerita.  Rayda dan Nawal protes dan meminta saya mengulangi kembali.  

Beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari kekeliruan saya.  Lalu mulai memperhatikan tanda-tanda baca , ritme dan intonasi.  Saya mulai membacakan cerita sambil bermain imajinasi, membayangkan betul-betul kejadian yang ada dalam cerita tersebut. Jika tokoh dalam cerita tertawa terbahak-bahak, maka saya akan turut tertawa terbahak-bahak pula……  
Atau jika tokoh lain berkata dalam nada sinis, saya  akan bertutur pula dalam nada sinis seraya memonyongkan mulut.  Anak-anak mengikuti mimik muka saya, tertawa, melotot, monyong , marah-marah......

Saya mulai menikmati membacakan cerita. Saat cerita berakhir  anak-anak mulai tertidur, sayapun rupanya turut terlelap......meninggalkan piring dan gelas-gelas kotor yang terlewat untuk dicuci.....  :)

Sejak menikmati karir baru saya ini, saya mulai percaya bahwa setiap ibu adalah pendongeng yang hebat bagi anak-anaknya.













MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...