Umbul Kapilaler adalah salah satu dari sekian banyak sumber mata air di kawasan Polanharjo Klaten. Umbul Kapilaler ‘bertetangga’ dengan Umbul Sigedang yang lebih dulu populer lantaran menjadi sumber air bagi sebuah perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) terbesar di negeri ini.
Siang ini saya menikmati menonton beberapa anak tengah menangkap ikan-ikan kecil di Umbul Kapilaler. Anak-anak ini cukup mahir berenang, mungkin karena hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan dengan berenang di umbul ini.
‘Amunisi’ yang mereka siapkan untuk menangkap ikan antara lain jaring ikan, baskom saring dan kantong plastik. Awalnya anak-anak ini beriringan di sisi umbul, bekerjasama menggiring dan manghalau ikan-ikan agar masuk perangkap jaring dan baskom. Beberapa ekor ikan berhasil masuk jaring dan segera saja dipindahkan ke dalam kantung plastik.
Tak berapa lama, kelompok kecil ini mulai terpisah-pisah karena kasyikan masing-masing. Ada yang memilih berenang-renang sambil menyelam, ada yang sibuk mengurusi ikan hasil tangkapan namun yang tetap berkonsentrasi menangkapi ikan-ikan masih tetap banyak.
Sesekali satu atau dua di antara mereka yang kebetulan melihat serombongan ikan akan berteriak memberi pertunjuk pada teman-temannya “Hei…kae..kae..ning kono..!” (Hei…itu..tuh..di sana..!). Saya yang sedari tadi menyaksikan ‘perburuan’ kecil ini turut berteriak menunjuk-nunjuk . Segera saja beberapa anak akan berenang mengikuti petunjuk. Beberapa ikan yang terjebak di antara bebatuan menjadi sasaran paling empuk untuk ditangkapi.
Keceriaan ini tentu saja dihiasi dengan begitu banyak gelombang dan deburan-deburan air segar. Beberapa percikan kecil air telaga ini mendarat di wajah saya, seketika rasa sejuk mengalir ke seluruh tubuh saya. Waktu benar-benar membeku di telaga eksotis ini, padahal matahari mulai merendah bersiap tenggelam.
Dalam perjalanan pulang, kesejukan air Umbul Kapilaler masih saya rasakan. Pun sesampai di rumah ketika tulisan ini hendak saya rampungkan. Saya jatuh cinta pada Umbul Kapilaler
