Minggu, 30 Desember 2018

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ulang. 1 Januri 2019.

Tahun baru sebenarnya bukan hal menarik buat saya, benar-benar terlewatkan begitu saja. Kebiasaan saya di malam tahun baru adalah tidur, meringkuk di bawah kehangatan selimut karen biasanya malam tahun baru selalu disambut oleh hujan berkepanjangan, gerimis yang awet.

Sependek yang saya ingat, hanya dua kali malam tahun baru yang saya lewati di luar ruang. Malam tahun baru pertama di luar ruang adalah  ketika saya diajak beberapa teman untuk hiking di kaki Gunung Merapi.  Ada Fajar, Dina, Anik, Dewi Dewok, Ujang, Ito, Bambung, Bambing dan alm. Ronal.  Mereka teman kuliah beda fakultas yang sering nongkrong bareng. Saya nggak tahu,  hiking di kaki Merapi itu ide siapa. Yang jelas saya agak repot saat harus meninggalkan kamar kost, karena harus mengunci pintu dan jendela kamar kost serapat mungkin agar biawak baru peliharaan saya nggak kabur keluar kamar. Meski nggak keluar kamar, tapi piaraan sayya itu berhasil mengacak-acak seisi kamar karena dia kelaparan. Maklum saya meninggalkannya hampir 24 jam dengan hanya dibekali beberapa ekor ikan lele mentah. Kalau bayangin piaraan saya itu, sebenarnya menyesal juga sih. kenapa kudu piara dia, kasihan.  Sumpah. Seharusnya dia hidup di habitatnya.

Kembali ke rencana hiking. Kami berangkat lewat jalur utama: Jalan Kaliurang. Sebuah jalan raya yang membentang sepanjang 20 kilometer sejak dari wilayah kampus hingga kawasan Kaliurang di kaki Merapi. Transportasi umum ke Kaliurang kala itu adalah mobil Colt L300 yang bisa menampung 20-25 penumpang.

Matahari mulai tergelincir ke barat saat kami tiba di Terminal Kaliurang. Beberapa trayek jalur Yogya-Kaliurang nampak parkir. Kami menaiki beberapa undakan batu menuju keda-kedai yang berjajar untuk melepas penat dan lapar..Cukup banyak kedai yang menjajakan Salah Pondoh dan penganan tradisional macam jadah tempe, geplak, bakia hingga keripik tempe.

Usai hilang lelah, kami memasuki kawasan taman wisata Kaliurang, tanpa melewati gerbang utama. Petugas penjaga nampaknya sudah pulang, sehingga kami melenggang begitu saja.

Matahari makin tergelinir saat kami melewati bebeapa wahana permainan anak-anak macam perosotan, ayunan hingga bangku-bangku taman yang bertebaran di taman ini. Kami terus berjalan melewati bangku-bangku taman tempat beberapa pasang kekasih saling menggelayut mesra. Shit! Saya masih jomblo waktu itu. Agak nyebelin sih melihat para penghuni bangku taman itu.

Beberapa perdu mulai menyambut langkah kami. Semain lama, jajaran perdu terasa makin meninggi, berganti pepohonan hutan. Ya, kami memasuki hutan di kaki Merapi. Bukan hutan lebat apalagi rimba, cuma saya nggak tahu tujuan kami mau ke mana. Jalan setapak mulai menanjak dan saya perlahan mulai ngos-ngosan, maklum saya jarang olahraga, bahkan mungkin hampir enggak pernah.

`"Kabarnya, kadang-kadang ada celeng   (babi hutan) lewat  daerah sini", tiba-tiba Ronal menyeletuk. "Kalau dikejar celeng kita harus bisa lari zig-zag, karena celeng cuma bisa lari lurus thok!". Saya nggak tahu siapa di antra kami yang terkejut, pucat atau cemas dengan lontaran rekan kami itu. Tapi diam-diam, dalam hati, saya mulai mempelajari bagaimana caranya berlari secepat mungkin dengan gaya zig-zag. Lari sambil belok ke kiri dan belok ke kanan bergantian. Secara bersamaan saya juga berdoa agar tak ada babi hutan yang melintas di hadapan kami, cukuplah bayangannya saya yang wira-wiri dalam benak saya. Ha...Ha...Ha...

Hari mulai gelap saat kami melewati hamparan lava yang membatu dengan aliran sungai kecil di sela-sela ceruknya. Gemerisik aliran air, suara jangkrik, desau angin mengasingkan kami dari peradaban. Hanya kami di sini tenggelam dalam senyap ini.

Gerimis menitik, ketika kami memasuki pemukiman penduduk. Saya bersyukur, lagi-lagi dalam hati. Bayangan babi hutan di kepala segera sirna. "Ini rumahnya Mbah Maridjan", salah satu teman menunjuk sebuah rumah jawa dengan halaman asri. Mbah Maridjan merupakan juru kunci Gunung Merapi (info tentang beliau cukup banyak, silahkan googling).  Rupanya kami tiba di Desa Kinahrejo, desa paling dekat dari puncak Merapi.

Samar-samar saya mendengar keramaian, alunan musik di kejauhan. Semakin berjalan, semakin mendekat  rupanya suara-suaraitu berasal dari kerumunan massa yang mengelilingi sebuah panggung dangdut. "Astagaaa....Kita ada di mana??" teriak saya berusaha mengimbangi alunan musik dangdut yang terasa menggelegar itu. "Kita di Bebeng!" Bebeng? Saya baru menyadari rute yang kami tempuh adalah rute Kaliurang-Bebeng.  Dan hiking dengan bayang-bayang babi hutan di kepala akhirnya selesai, tepat di hadapan biduan dangdut yang berdenang di atas panggung.

Begitulah malam tahun baru pertama saya di luar ruang. Kami menyambut malam pergantian tahun bersama indomie rebus, jagung bakar, gerimis dan tentu saja irama dangdut lengkap dengan penonton yang berjoget mengelilingi panggung. Malam tahun baru luar ruang kedua saya terjadi bertahun-tahun kemudian saat telah berkeluarga: bakar ikan bersama tetangga kontrakan.

Malam-malam tahun baru berikutnya, saya kembali melewatkannya di bawah kehangatan selimut di antara bunyi petasan dan terompet.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...