“Monggo….batiknya mbak, murah...untuk oleh-oleh di rumah”
Tawaran pedagang di kiri kanan tak asing lagi jika kita menjelajah trotoar Jalan Malioboro, sekeping surga belanja bagi pelancong yang mengunjungi Yogyakarta. Inilah ruas jalan paling tersohor dan penting di seantero Yogyakarta. Tersohor karena menjadi destinasi utama kunjungan wisata dan penting karena menjadi jalan resmi bagi berbagai prosesi tradisi Keraton seperti pawai saat jumenengan Sultan, pernikahan putra-putri Raja, pawai kemerdekaan RI Pawai Imlek atau pawai terkait berbagai festival/karnaval.
Tawaran pedagang di kiri kanan tak asing lagi jika kita menjelajah trotoar Jalan Malioboro, sekeping surga belanja bagi pelancong yang mengunjungi Yogyakarta. Inilah ruas jalan paling tersohor dan penting di seantero Yogyakarta. Tersohor karena menjadi destinasi utama kunjungan wisata dan penting karena menjadi jalan resmi bagi berbagai prosesi tradisi Keraton seperti pawai saat jumenengan Sultan, pernikahan putra-putri Raja, pawai kemerdekaan RI Pawai Imlek atau pawai terkait berbagai festival/karnaval.
Namun, tahukah kita arti nama Malioboro? Darimana nama tersebut berasal? Ini menarik sekali karena dengan ketenaran yang sedemikian rupa ternyata asal-usul nama Malioboro masih tak diketahui secara luas.
Banyak yang mengaitkan nama Malioboro dengan Marlborough, sebuah benteng peninggalan Inggris yang berdiri di Bengkulu. Kesamaan pengucapan menjadi alasan utama kenapa kedua nama ini sering dikaitkan satu sama lain. Mari kita bayangkan: Apa mungkin nama jalan yang sangat seremonial itu diambil dari nama asing yang notabene menjadi bagian dari sejarah “penjajahan” negeri kita?
Usut punya usut, ternyata…..nama Malioboro ini konon berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Malyabara yang artinya: Dihiasi untaian bunga. Nah...kalau arti kata “Dihiasi untaian bunga” nampaknya lebih pas karena seirama dengan fungsi jalan ini yang sering menjadi lintasan karnaval atau pawai saat berlangsungnya berbagai perayaan di Yogyakarta. Terbayang bukan bagaimana riuhnya berbagai pawai/karnaval di jalan Malioboro ini yang seolah-olah sepanjang jalan ini memang dihiasi oleh beragam untaian bunga.
Kalau Benteng Marlborough itu bagaimana ceritanya? Nah....cerita tentang benteng kuno ini sepertinya lebih terang benderang. Benteng yang terletak di Propinsi Bengkulu ini sesuai namanya diambil dari gelar kehormatan John Curchill yaitu Duke of Marlborough. John Churchill sendiri merupakan seorang Jenderal perang Kerajaan Inggris yang sangat terkenal dan terhormat pada masanya (1650-1722)
Yag terakhir….adalah merk sebuah rokok yang terkenal dengan ikon koboinya, Marlboro. Nama ini sama sekali tak ada kaitannya dengan jalan Malioboro, tetapi berkaitan dengan Duke of Marlborough. Gimana ceritanya sih? Hee...he… begini di awal kemunculannya sekitar tahun 1924, rokok yag semula ditujukan bagi kaum perempuan ini tengah mencari nama bagi produk tersebut. Ini cerita tentang penemua nama sebuah produk yang terjadi secara kebetulan. Secara tidak sengaja produsen rokok ini membaca sebuah berita tentang PM INggris WInston Churchill yag ternyata merupakan keturunan John Churchill sang Jenderal tersohor itu.Penelusuran menemukan nama Duke of Marlborough, gelar sang jenderal. Nama Marlborough rupanya memikiat sang produsen karena terdengar sangat berkelas, mudah disebut dan tentu saja unik. Untuk memantapkan penyebutan nama tersebut sebagai sebuah brand, huruf “ugh” di akhir kata Marlborough sengaja dihilangkan menjadi Marlboro.
Lalu, apa hubungan Malioboro dengan Marlboro? Ya..tentu saja tidak ada hubungannya…. Namun, berpuluh tahun kemudian….industri periklanan mengkaitkan kedua nama ini dalam sebuah papan billborad yang dipasang persisi dipintu masuk jalan Malioboro. Sekitar dekade 90-an bagi teman-teman yang pernah berdiam di Yogyakarta tentu pernah melihat sebuah billboard besar bergambar laki-laki koboy yang macho dengan tulisan “Come to Marlboro Country”.
Inilah kaitan kedua nama tersebut: Papan iklan Marlboro seolah menyambut kedatangan pengunjung kawasan Malioboro dengan kalimat “Come to Marlboro Country”. Sebuah kesamaan nama yang tak terkait sama sekali namun secara paksa sengaja dikaitkan oleh industri periklanan.
Kepustakaan:
Makalah: Asal Usul Nama Yogyakarta dan Malioboro (Peter Carey, penerbit Komunitas Bambu),
Makalah: How Marlboro Brand changed its sex (Krishnamurthy Prabhakar)
Makalah: Asal Usul Nama Yogyakarta dan Malioboro (Peter Carey, penerbit Komunitas Bambu),
Makalah: How Marlboro Brand changed its sex (Krishnamurthy Prabhakar)
